Kereta Api dan Finnet

Zaman sudah modern, teknologi juga semakin berkembang pesat sehingga akses informasi dan segala sesuatu yang dapat memudahkan kehidupan manusia dibuat massal. Tak terkecuali dengan vending machine yang mulai banyak ditemui di berbagai tempat. Kita bisa ambil contoh Anjungan Tunai Mandiri (ATM) yang memudahkan masyarakat bertransaksi keuangan, lalu mesin yang dapat digunakan untuk membeli air minum dalam kemasan (amdk) jumlahnya memang belum begitu banyak tapi klo pernah ke Ancol atau nonton film “luar” pasti tau deh bentuknya gimana.

Nah yang tidak kalah populer adalah vending machine yang sekarang terdapat di hampir semua stasiun kereta api. PT. KAI selaku operator tunggal moda transportasi kereta api memang terus berbenah dalam memanjakan konsumennya, sekarang beli tiket gak harus ke stasiun tapi bisa melalui aplikasi online, agen tiket, dan tentunya gerai toko retail yang menjadi partner resmi KAI. Salah satu terobosan terbaru adalah menggandeng PT. Finnet Indonesia untuk menyediakan mesin di semua stasiun agar memudahkan masyarakat membeli tiket ketika loket di stasiun belum beroperasi, beritanya bisa dibaca disini dan disini. Perlu kalian tahu bahwa PT. KAI telah memberlakukan kebijakan jam beroperasi loket untuk melayani pemesanan tiket dari jam 09.00 – 15.00 setiap harinya, kecuali untuk keberangkatan dihari yang sama maka disediakan loket khusus.

Saya punya pengalaman membeli tiket kereta api menggunakan mesin ini, kalo gak salah sudah 3x bertransaksi melalui Finnet. Awalnya memang membingungkan, tapi gak usah takut karena ada petugas yang berjaga siap membantu calon penumpang bertransaksi melalui Finnet. Transaksi di Finnet awalnya bagi saya cukup menyenangkan, karena tinggal memasukan data dan uang maka keluar lah bukti transaksi disertai kode booking tiket yang siap dicetak menjelang keberangkatan. Gak ribet dan tanpa antre, jangan lupa harus menggunakan uang pas karena mesin gak menyediakan kembalian hehehe…

Pengalaman terakhir bertransaksi melalui Finnet terjadi pada tanggal 28 November 2016, bisa dibilang ini pengalaman buruk dan sedikit membuat parno bertransaksi lagi. Saat itu tanggal 27 saya sedang ada acara di Semarang, selesai acara sekitar jam 2 dinihari saya diantar ke stasiun Poncol karena ngejar kereta Kamandaka yang berangkat jam 05.15. Sampai stasiun kurang lebih jam 02.30, karena belum beli tiket dan loket juga belum buka maka saya putuskan membeli tiket melalui Finnet. Data dan uang sudah saya masukkan tapi mesin tidak mengeluarkan kertas bukti transaksi yang berisi kode booking tiket, seketika saya panik dan bingung harus bertanya atau lapor pada siapa. Berburu petugas pun saya lakukan, satpam dan petugas lain yang tertidur di stasiun sempat saya bangunkan  untuk bertanya masalah ini tapi tidak ada jawaban yang memuaskan. Sempat saya menelpon nomor CS Finnet yang tertempel di mesin tapi sampe telpon yang kesekian kali tidak tersambung juga. Akhirnya saya duduk di ruang tunggu sesekali merem karena ngantuk banget sekalian nunggu loket buka. Jam 04.30 loket akhirnya dibuka khusus untuk keberangkatan hari ini, segera saya lapor kejadian yang saya alami, tapi mbak penjaga loket malah menyuruh saya menelpon CS Finnet karena dia gak bisa ambil keputusan. Nanti setelah ada jawaban baru deh petugas loket bisa bantuin sesuai anjuran CS Finnet, sudah dijelazkan klo telpon gak bisa tersambung tapi tetap saja petugas loket tak bergeming. Waktu terus berjalan, telpon CS tidak tersambung, kepanikan semakin menjadi, maka jam 5 kurang saya putuskan untuk membeli tiket di loket setelah mendapat kepastian klo masalah ini bisa diurus ketika sampai di stasiun tujuan.

Jam 07.45 sampai di stasiun Tegal, langsung pulang mandi dan bersiap masuk kerja. Agak siang saya telpon CS Finnet untuk minta penjelasan tapi jawaban bertele-tele yang intinya uang gak bisa dikembalikan karena perjalanan telah dilakukan, klo perjalanan belum berjalan masih bisa diurus. Mbak CS juga bersikukuh klo mereka terjaga 24jam menerima telpon konsumen dan bilang klo ga ada telpon masuk dari nomor saya, bulshit! Gak puas dengan jawaban CS Finnet maka saya ke stasiun Tegal untuk meminta penjelasan CS stasiun, tapi jawaban yang sama kembali didapat. Perjalanan telah dilakukan sehingga gak bisa diurus, tapi ada jawaban yang lumayan menghibur saya. Dia bilang seharusnya petugas loket di stasiun Poncol bisa mencetak tiket setelah mencocokan identitas saya dengan sistem, gak harus nunggu jawaban CS Finnet. Padahal saya sudah memberikan KTP ke mbak penjaga loket tapi dia bergeming tidak bisa. Akhirnya petugas CS stasiun Tegal meminta nama petugas tiketing stasiun Poncol yang pagi tadi bertugas untuk dilaporkan masalah ini hehehe…

Hikmah yang bisa diambil dari kejadian ini adalah, ternyata mesin tidak selamanya memudahkan ada kalanya juga merugikan. Tujuan Finnet dan KAI mungkin ingin memudahkan konsumen saat membeli tiket tapi namanya hidup kadang gak sesuai ekspektasi hehehe… Sebelum menutup telpon, saya berpesan pada CS Finnet agar dilakukan pemeliharaan rutin pada mesin. Karena bukan hanya soal uang tapi soal kepercayaan konsumen, jual jasa kan modalnya kepercayaan dan kepuasaan konsumen. Hikmah lainnya adalah saat tiba di stasiun dinihari dan belum punya tiket, mendingan nunggu loket buka jangan tergiur kemudahan yang ditawarkan sebongkah vending machine karena saat dinihari gak ada petugas stasiun yang bisa memberikan solusi atau minimal jawaban yang menenangkan hehehe…

Salam buat semua pengguna transportasi publik.

Kurban Kesalahan

Idul Adha merupakan salah satu hari raya umat Islam yang selalu ditandai dengan prosesi ibadah haji dan pemotongan hewan kurban. Tahun ini merupakan pertama kalinya saya membeli hewan kurban dengan uang pribadi yang berasal dari hasil kerja beberapa bulan ini. Namun ada cerita dibalik moment ini, karena kurban yang saya lakukan itu buah dari kesalahan beberapa orang panitia kurban di masjid komplek rumah.

Jadi tahun ini ibu saya tidak kurban di masjid sekitar rumah, tapi kurban di masjid sekitar rumah orang tuanya (simbah saya). Hal ini dilakukan karena jamaah masjid di komplek rumah gak ada yang mau diajak patungan membeli sapi, padahal ibu saya penginnya korban satu ekor sapi. Disaat yang bersamaan ada panitia kurban di masjid deket rumah simbah yang dateng kerumah menawarkan patungan kurban sapi karena disana masih kurang pesertanya, tanpa pikir panjang ibu saya langsung setuju dan membayar uang mukanya.  Seperti diketahui bersama klo kurban seekor sapi itu bisa diatasnamakan maksimal tujuh orang.

Beberapa hari menjelang Idul Adha panitia kurban di masjid komplek rumah merilis pengumuman donatur yang menitipkan hewan kurbannya di masjid, yang bikin heran disitu tertulis nama ibu dengan urutan nomor satu. Sontak ibu dan saya terkejut, karena tidak pernah merasa mendaftarkan namanya kepada panitia. Singkat cerita, kami kemudian melakukan penelusuran kepada panitia kurban dan didapatkan info klo penulisan itu didasarkan atas desas-desus kabar klo ibu akan kurban. Wajar klo muncul desas-desus, karena ibu dari jauh-jauh hari sudah gencar mencari partner kurban sapi ke jamaah di masjid tapi hasilnya nihil. Kesalahan yang sangat fatal, karena mencantumkan nama orang tanpa konfirmasi kepada yang bersangkutan. Akhirnya ibu menjelaskan semuanya, dan kemudian panitia menghapus nama ibu dari daftar donatur.

Tapi dasar ibu saya orangnya gak kepenakan, akhirnya ibu membujuk saya untuk berkurban di masjid. Awalnya saya menolak, karena kurban dilakukan mendadak tanpa rencana dari jauh-jauh hari sebelumnya. Apalagi rasa gak kepenak itu disebabkan oleh kesalahan orang lain, yang harusnya bukan jadi urusan kami. Hanya hitungan dua hari sebelum idul adha saya harus memutuskan untuk membeli kambing, padahal uang itu sudah saya rencanakan untuk membeli suatu barang. Berdasarkan hasil diskusi dan timbang-menimbang akhirnya satu hari sebelum idul adha saya putuskan membeli kambing dengan budget yang sudah disediakan, dan itu ternyata agak sulit karena pedagang kambing pasti pasang harga tinggi diwaktu yang mepet ini. Alhamdulillah berhasil mendapatkan seekor kambing sesuai dana yang sudah dialokasikan. 

Hikmah dari idul adha tahun ini adalah, alhamdulillah bisa ikut kurban sesuai perintah agama. Karena saya sendiri belum tentu bisa berumur panjang untuk menjumpai idul adha tahun depan. Tapi sebaiknya kurban itu diniatkan dari jauh-jauh hari biar bisa mengalokasikan dana khusus buat beli hewan kurban. Jangan lupa juga untuk mengingatkan panitia kurban di daerah setempat agar lebih hati-hati lagi dalam mencantumkan nama orang lain. Selalu ikhlas dalam beribadah, karena Allah tidak akan berhenti memberikan rezeki bagi umat yang bertakwa. 

Tabiq…

Beli Kondom

Sebenernya ini berasa lagi curhat sih, dari pengalaman pribadi atau cerita seorang teman hihihi…

nakal boleh

Catet ..!

Behubungan seks itu hak semua individu, masalah mau berhubungan dengan pasangan yang resmi atau tidak resmi biar lah itu jadi urusan masing-masing. Saya tidak mau banyak berkomentar :D. Dalam berhubungan seks dikenal ada yang namanya alat kontrasepsi, baik itu yang digunakan oleh pria maupun oleh wanita. Untuk jenis, kegunaan, dan cara pakai silahkan cari info sendiri ya :D.

Alat kontrasepsi pria salah satunya yang paling populer adalah kondom, berbahan dasar dari lateks dan bentuknya dapat menyesuaikan alat kelamin pria. Kondom banyak dijual bebas, mulai dari apotik sampe toko retail sudah tersedia. Keberadaannya yang mudah dijumpai, maka akses untuk membeli atau menggunakannya semakin mudah juga. Sempat terbersit pertanyaan yang mengganjal di hati saya, kenapa cowok (gak semua) suka malu atau gak pede waktu beli kondom?  Sudah saya buktikan sendiri, temen saya gak berani beli kondom di toko retail yang berujung dengan menyuruh saya untuk mengambilnya. Seingat saya, sudah 2x dititipin beli kondom sama temen yang itu.

Di toko retail dengan marga “Mart” (Indo dan Alfa) posisi rak kondom memang seringnya berada disamping dan belakang kasir, jadi ada rasa gak pede saat mau mengambilnya. Apalagi klo posisinya di belakang kasir, brarti harus minta tolong kasir untuk mengambilkan. Klo kasirnya cewek apa gak tengsin tuh? :p. Menurut cerita teman, dia malu beli kondom karena menganggap benda itu tabu untuk dibeli, jadi malu sama kasir atau orang lain yang kebetulan melihatnya. Ada juga yang takut kena stigma negatif dari orang yang melihatnya.  Ada juga yang beli kondom tapi dibarengi dengan membeli barang lain (misal: softdrink, deodoran, dll) padahal sebenarnya yang dibutuhkan saat itu hanya kondom, barang lain itu cuma kamuflase untuk menutupi rasa malu :D.

Mau iseng menjabarkan analisa ngawur saya tentang kekhawatiran teman itu, tentang cara pandang dia saat membeli kondom :D. Menganggap kondom sebagai benda yang tabu, padahal di jaman modern seperti sekarang alat kontrasepsi bukan lah sesuatu yang tabu lagi. Apalagi kondom sebagai alat kontrasepsi yang dijual bebas, penggunaannya paling mudah, tidak perlu resep dokter, harga relatif terjangkau, maka apanya yang masih tabu bro?! Mungkin jalan pikiran kamu aja yang masih menganggap tabu beberapa hal tapi kamu sendiri membutuhkan dan melakukannya. Hehe…

Merasa malu saat membeli kondom, memang kenapa mesti malu? Kondom dijual kan memang untuk dibeli oleh orang yang membutuhkan. Dijual di toko retail dan apotik, berarti memang ingin memudahkan akses orang untuk membelinya. Lalu kenapa masih malu? Lagian benda yang bermanfaat kok, kenapa masih malu membelinya? Malu sama kasir atau orang lain yang kebetulan melihat kamu beli kondom? Emang mereka bakal nanya itu benda mau dipakai kapan dan sama siapa? Emang mereka peduli sama urusan yang notabene bukan urusan mereka? Aaahh lagi-lagi pikiran kita terlalu mendramatisir.

Takut kena stigma negatif dari orang lain yang melihatnya. Pertanyaan dari saya adalah, emang kamu tau darimana klo beli kondom akan dicap negatif oleh orang lain? Apa kamu bisa membaca pikiran orang lain yang kebetulan lihat kamu beli kondom? Terkadang pikiran kita memang sok tau isi pikiran orang lain yah :D. Pesan saya adalah, jangan terlalu lama bergaul dengan persangkaan yang membuat kita terpasung dan susah maju nantinya.

Jadi kesimpulan saya adalah, pikiran kita adalah pusat dari segala tindakan yang kita lakukan. Kasus HIV AIDS atau penyakit kelamin lain yang sampe saat ini masih menjadi momok bagi kita mewajibkan diri ini selalu waspada terhadap segala sesuatu yang mempunyai potensi tersebut. Kondom merupakan salah satu alat yang dapat membantu kita mencegah potensi terjangkitnya penyakit kelamin. Kondom juga berguna bagi pasangan yang ingin menunda kehamilan. Saat kita memutuskan membeli kondom, maka jauh disana pikiran kita sudah memikirkan berbagai akibat yang ditimbulkan apabila berhubungan intim tanpa pengaman. Pikiran dan alam bawah sadar telah memerintahkan fisik untuk melakukan tindakan yang dianggapnya perlu dan benar, yaitu membeli lalu menggunakan kondom. Berani berbuat, harus berani membeli donk!

Pesan Moral :

Semoga dengan dijualnya kondom secara bebas tidak menjadikan pembenaran bagi sebagian orang untuk berbuat asusila yang melanggar norma dan moral. Berhubungan lah dengan pasangan resminya, klo pun doyan “jajan” jangan lupa safety first bro!! Jangan menyakiti dan menyusahkan diri sendiri, keluarga, dan orang lain yang disebabkan oleh keteledoran dan tidak terkendalinya “kepala” bagian bawah.

Regards..!

Secuil Rasa

Sebenarnya tulisan ini merupakan sambung rasa dari tulisan yang sebelumnya, masih berhubungan dengan koperasi dan pekerjaan yang saya jalani sekarang. Jadi sudah hampir dua bulan ini saya bekerja di sebuah koperasi simpan pinjam dengan posisi sebagai Financial Advisor yang mempunyai tugas untuk memasarkan produk simpanan (tabungan dan deposito) kepada masyarakat. Bekerja sebagai tenaga lapangan sebenarnya bukan lah sebuah posisi yang saya inginkan, apalagi bertugas untuk memasarkan sebuah produk. Karena jujur saja, saya kurang suka menjadi tenaga pemasar yang menghabizkan sebagian besar waktunya diluar ruangan. Pada dasarnya memang karena saya anak rumahan sih :D. Tapi apa salahnya mencoba? Karena tenaga pemasar yang ulet ternyata penghasilannya bisa berkali lipat dari pekerja kantoran di ruang berpendingin udara yang nyaman itu. Ya siapa tahu ada rezeki dari hal yang tidak kita inginkan.

Cukup menyenangkan ternyata menjadi tenaga pemasar di koperasi ini, karena pola kerjanya santai, tekanan tidak begitu besar, target omset juga kecil apabila dibandingkan dengan marketing perbankan, absensi juga cuma pagi hari sehingga setelah absen bebas mau jalan kemana saja. Namun yang namanya bekerja pasti ada suka dan dukanya, biar hidup semakin berwarna :D. Selama hampir dua bulan ini, ada beberapa kendala yang saya hadapi saat sedang menawarkan produk. Klo kendala yang bersifat pribadi sih bisa diatasi sendiri, tapi ada kendala yang dalam mengatasinya diperlukan campur tangan berbagai pihak termasuk pemerintah sebagai pemegang tampuk kekuasaan dan pembuat regulasi.

Kendala pertama adalah soal kepercayaan, selama ini masyarakat sudah terlanjur melekat dengan lembaga perbankan yang jumlahnya semakin banyak dan produk bermacam-macam. Terlihat dari jumlah nasabah bank yang tak pernah habis pertumbuhannya. Di hadapan perbankan, maka koperasi terlihat kerdil. Terlihat dari jumlah aset yang dimiliki, gedung yang digunakan, jaringan yang tersebar, dan lain-lain. Maka saat menawarkan produk simpanan dari koperasi, masyarakat kurang tertarik meskipun bunga yang ditawarkan lebih besar dibanding bank. Terlebih lagi ada beberapa kasus koperasi bodong/abal-abal yang menggelapkan uang nasabahnya tentunya makin merusak citra koperasi di tengah masyarakat. Mungkin kasus penggelapan dana nasabah pernah terjadi juga di bank, tapi tidak lantas membuat bank tersebut kehilangan kepercayaan dari calon nasabah maupun nasabahnya.

Kendala kedua adalah soal lembaga penjamin simpanan (LPS), setiap kali saya menawarkan produk banyak orang yang tertarik karena bunga yang ditawarkan jauh lebih tinggi dibanding perbankan dan biaya administrasi tabungan yang lebih ringan. Tapi karena koperasi tidak dilindungi oleh LPS, maka banyak pula yang mengurungkan niatnya untuk menjadi anggota koperasi. Sedangkan yang punya wewenang membentuk LPS adalah pemerintah, jadi kami para karyawan koperasi berharap segera dibentuknya LPS agar mempermudah kerja kami. Karena sesungguhnya koperasi merupakan lembaga keuangan yang diakui oleh negara, buktinya pemerintah membentuk Kementerian Koperasi dan UKM dan ada undang-undang perkoperasian. Dengan dibentuknya LPS khusus untuk koperasi, maka karyawan terbantu kerjanya dan masyarakat juga merasa nyaman dan aman menyimpan dananya di koperasi.

Saya berharap pemerintah mempedulikan keberadaan koperasi, karena sebagai lembaga keuangan resmi saya merasa dorongan dari pemerintah terhadap koperasi masih sangat minim. Padahal dulu koperasi sempat digadang-gadang sebagai “soko guru” perekonomian nasional tapi saat ini saya lihat seperti macan ompong saja. Tenaga marketing koperasi klo sudah di lapangan kalah taji dibandingkan oleh tenaga marketing perbankan. Karena perlindungan dan perlakuan pemerintah melalui kebijakannya sudah jelaz terlihat berbeda. Harapan saya sih agar koperasi bisa menjadi lembaga keuangan yang sejajar dengan perbankan, memiliki gedung megah, fasilitas memadai, teknologi canggih, dan jaringan dapat tersebar ke seluruh wilayah Indonesia.

Alhamdulillah saya bersyukur menjadi karyawan salah satu koperasi terbesar di Indonesia yang memang sudah punya kualitas, kuantitas, dan kredibilitas cukup mumpuni. Walaupun itu semua gak menjamin mudah meraih kepercayaan masyarakat, karena faktor belum adanya LPS yang dapat membuat aman dan nyaman menyimpan dananya di koperasi. Karena kecurangan itu bisa dari oknum bukan lembaganya, namun tetap lah lembaga yang kena imbasnya. Maka koperasi besar sekalipun tetap mengharapkan dukungan berupa kebijakan, perlindungan, dan dorongan dari pemerintah agar koperasi mendapatkan hati masyarakat.

Regards!

Financial Advisor Koperasi Sejahtera Bersama

Lembaga Penjamin Simpanan untuk Koperasi Simpan Pinjam

Sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) pasti kita sudah gak asing lagi dengan yang namanya koperasi. Sejarah koperasi terlalu panjang apabila harus saya ceritakan disini (silahkan googling), yang pasti cikal bakal berdirinya koperasi sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Pengertian koperasi menurut UU No. 25 tahun 1992 yaitu sebuah badan usaha yang beranggotakan orang – seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan (pasal 1 ayat 1). Pada era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), DPR mengesahkan undang-undang perkoperasian yang baru yaitu UU No. 17 tahun 2012. Dalam UU tersebut disebutkan bahwa jenis koperasi didasarkan pada kesamaan kegiatan usaha dan atau kepentingan ekonomi anggota (pasal 82 ayat 2). Maka kemudian koperasi dibagi kedalam empat jenis, yaitu koperasi konsumen, koperasi produsen, koperasi jasa, dan koperasi simpan pinjam (pasal 83).

Logo lama

Logo lama

Nah disini saya akan membahas tentang Koperasi Simpan Pinjam (KSP) yang keberadaannya semakin menjamur ditengah masyarakat. Koperasi Simpan Pinjam adalah koperasi yang menjalankan usaha simpan pinjam sebagai satu-satunya usaha yang melayani anggota (pasal 84 ayat 4). Kegiatan KSP yaitu menghimpun dana anggota, memberikan pinjaman kepada anggota, dan menempatkan dana pada KSP sekundernya (pasal 89). Jadi bisa dibilang bahwa kegiatan KSP itu hampir sama dengan apa yang dilakukan oleh lembaga perbankan. Karena KSP merupakan lembaga keuangan non bank, maka sudah sewajarnya apabila dikelola dengan profesional sesuai regulasi yang berlaku. KSP mengelola dana dari anggotanya, maka harus ada unsur saling percaya antara pengurus dan anggota. KSP harus memiliki pengurus dan pengawas yang memenuhi standar kompetensi yang diatur dalam peraturan menteri. Dalam pasal 94 ayat 1, disebutkan bahwa KSP wajib menjamin simpanan anggota sedangkan pada ayat 2 disebutkan bahwa pemerintah dapat membentuk Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pada KSP untuk menjamin simpanan anggotanya.

logo baru

logo baru

Dengan adanya LPS pada KSP, maka anggota koperasi akan merasa aman dan nyaman untuk menyimpan dananya di KSP, seperti yang terjadi pada nasabah bank. Bagi karyawan KSP, dengan adanya LPS juga akan membuat kerjanya terbantu dalam mencari anggota baru, karena calon anggota tentunya akan melihat track record KSP tersebut dan memastikan bahwa dananya akan aman disimpan di KSP. Sayangnya UU No. 17 tahun 2012 sudah dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi pada tanggal 28 Mei 2014. Keputusan Mahkamah Konstitusi. Putusan Nomor 28 PUU-XI/2013 dalam amar putusannya antara lain memutuskan sebagai berikut :

  1. Undang-Undang No. 17 Tahun 2012 Tentang Perkoperasian bertentangan dengan UUD RI Tahun 1945.
  2. Undang-Undang No. 17 Tahun 2012 Tentang Perkoperasian tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.
  3. Undang-Undang No. 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian berlaku untuk sementara waktu sampai dengan terbentuknya Undang-Undang yang baru.
  4. Putusan tersebut dibacakan pada tanggal 28 Mei 2014 pukul 09.30 WIB oleh Hakim Ketua : Hamdan Zoelva

Pembatalan UU tersebut dilakukan atas dasar judicial review dari beberapa aktivis koperasi yang menganggap bahwa UU No. 17 Tahun 2012 telah menghilangkan jatidiri koperasi dan membuat koperasi mirip dengan sebuah korporasi. Saat ini mau tidak mau, semua gerakan koperasi harus kembali pada UU No. 25 Tahun 1992. Dengan adanya pembatalan ini, maka rencana pembentukan LPS bagi KSP akhirnya batal juga, karena dalam UU No. 25 Tahun 1992 tidak diatur tentang pembentukan LPS. Oleh karena itu, KSP harus bisa menjamin kelangsungan simpanan anggota di dalam usaha simpan pinjam ini. Tetapi semua koperasi resmi yang terdaftar tetap berada dalam pengawasan Kementerian Koperasi dan UMKM, penilaian kesehatan kondisi keuangan dan organisasi pada koperasi tetap rutin dilaksanakan oleh kementerian.

Bapak Koperasi Indonesia

Bapak Koperasi Indonesia

Semoga kita semua bisa mengambil hikmahnya dari kejadian ini sembari menunggu terbitnya UU terbaru tentang perkoperasian. Kita harapkan koperasi dapat semakin maju, mendapatkan tempat di hati masyarakat, dan membantu perekonomian Indonesia. Sesuai dengan cita-cita awal dibentuknya koperasi, meneruskan amanat dari Bung Hatta yang ingin menjadikan koperasi sebagai soko guru perekonomian nasional.

Sumber : Diolah dari berbagai sumber

Berburu Golden Sunrise Sikunir

Long week end tanggal 14 – 17 Mei 2015 membuat saya berfikir mau mengisi dengan kegiatan apa untuk memutilasi rasa jenuh yang membuncah di dada. Saat sedang memutar otak sembari mencari referensi lokasi wisata di berbagai blog, akhirnya opsi mengerucut untuk ke Dieng Wonosobo atau ke Ciwidey Bandung. Sudah mencari info transportasi dan penginapan untuk menuju kedua lokasi tersebut biar gak kayak orang ilang pas sampe disana :), tetiba dapet kabar ada temen-temen di Purwokerto yang mau ke Dieng, yaaah pucuk dicinta ulam pun tiba! Akhirnya saya gabung deh sama mereka daripada jalan sendirian kan bete dan mirip orang ilang nantinya :D. Hari Jumat pagi saya berangkat dari Tegal (domisili saya) menuju Purwokerto untuk bergabung dengan rombongan disana.
Tujuan utama trip Dieng kali ini adalah berburu Golden Sunrise di puncak bukit Sikunir yang legendaris itu. Bukit Sikunir merupakan salah satu bukit yang berada di dataran tinggi Dieng, letaknya di Desa Sembungan yang diklaim merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 2.350 mdpl. Dinamakan Sikunir karena konon ceritanya saat matahari terbit, pantulan sinar matahari di bukit ini berwarna kuning seperti warna kunyit atau kunir (sejenis tanaman rempah). Mau buktikan warna pantulan sinarnya beneran mirip kunir apa enggak? Silahkan datang sendiri ke Sikunir 🙂
Hari Sabtu siang dari Purwokerto saya berangkat ke Dieng duluan bareng 2 orang temen, sisanya 6 orang temen nyusul malem harinya. Perjalanan dari Purwokerto ke Dieng memakan waktu kurang lebih 3-4 jam, tapi saat musim liburan jalur menuju Dieng sering macet. Disana nginep di losmen Bu Djono pilih kamar seharga Rp 75.000, harga yang relatif murah karena satu kamar bisa muat 2 orang. Ada 2 pilihan kamar disini, harga Rp 75.000 untuk kamar tanpa toilet dan harga Rp 150.000 untuk kamar dengan toilet didalamnya. Lokasi losmen ini dekat dengan icon Dieng yang sering jadi spot foto selfie para wisatawan, jadi mudah ditemukan.
Losmen Bu Djono
                    Losmen Bu Djono
kamar 75rb
                        Kamar 75rb
Banyak losmen/homestay di Dieng, kita bebas memilih sesuai dengan kebutuhan. Pertimbangan memilih losmen Bu Djono karena lokasinya strategis, banyak warung makan di sekitarnya, deket masjid besar, dan ramai terus sampai dinihari. Ada juga losmen/homestay yang letaknya deket Sikunir, tapi lingkungan di sekitarnya sepi dan gelap karena ditengah perkampungan dan dekat dengan ladang sayur. Bagi yang gak bawa kendaraan mungkin bisa pilih homestay dekat Sikunir biar jalan kakinya gak kejauhan atau bisa juga camping di pinggir telaga Cebong yang letaknya persis disamping lahan parkir Sikunir.
Minggu dinihari sekitar jam 3.30 saya dan rombongan keluar losmen untuk melanjutkan perjalanan ke Sikunir. Moment long week end rupanya membuat jalan menuju lokasi macet, karena banyaknya kendaraan yang menuju Sikunir. Dari losmen menuju gerbang Sikunir perjalanan naik motor memakan waktu kurang lebih 20 menit diwaktu normal, tapi klo jalan kaki katanya sampe sekitar 1 jam. Siapa tahu pengin olahraga dinihari bisa mencoba jalan kaki sampe gerbang pendakian, karena teman saya sudah mencobanya sendiri jalan kaki memakan waktu 1,5 jam hihihi… Sampe parkiran wah gila penuh banget sampe harus blusukan ke pinggir telaga untuk markir motornya, sempet ragu begitu sampe parkir pas adzan subuh. Mau langsung muncak atau subuhan dulu, karena menurut penduduk sekitar kita termasuk telat dateng jadi klo naik abiz subuhan ya pasti telat dapet moment golden sunrise. Tapi karena enggak mau meninggalkan kewajiban beribadah, maka diputuskan subuhan dulu di mushola sekitar parkiran. Jam 04.45 baru kita nanjak, ujian kesabaran belom selesai karena jalur pendakian padat merayap baru jalan sekian langkah berhenti dan begitu seterusnya sampai puncak. Alhamdulillah masih bisa liat golden sunrise yang sangat cantik, dari bukit Sikunir bisa terlihat beberapa puncak gunung yaitu G.Sindoro, G.Merbabu, dan G.Lawu (klo gak salah). Saya sarankan jam 3 dinihari sudah memulai pendakian ke puncak Sikunir, karena ini waktu yang sering digunakan para pemburu sunrise Sikunir untuk liat moment demi moment terbitnya sang surya.
Semburat emas
                       Semburat emas
Bukti otentik
                          Bukti otentik
Sunrise
                            Sunrise
Menyenangkan bisa liat sunrise dari ketinggian bukit Sikunir yang legendaris ini, konon katanya spot ini jadi salah satu lokasi terbaik di Jawa untuk melihat sunrise. Tempat ini cocok buat pendaki pemula karena medan yang dilalui cukup mudah dan trek pendakian aman bagi semua usia. Dari parkiran hanya berjalan 20-30 menit untuk sampai puncak Sikunir, ada beberapa penjaja makanan dan minuman juga sepanjang jalur pendakian jadi gak perlu panik klo haus atau lapar. Oya, jangan lupa bawa turun lagi ya sampah yang kamu hasilkan karena Sikunir mulai banyak sampah sekarang di puncaknya. Sayang kan klo lokasi keren ini harus dikotori oleh sampah dari para pemburu golden sunrise :D.